Sejarah Singkat Persatuan Atlet Atletik Master Indonesia (PAMI)
Sejarah PAVI / PAMI
Persatuan Atletik Master Indonesia (PAMI), dahulu bernama Persatuan Atlet Veteran Indonesia (PAVI), secara resmi dibentuk pada tanggal 9 September 1983 di Kota Surakarta (Solo). Sebenarnya, Gerakan Atletik Veteran di Indonesia sudah berlangsung jauh sebelum itu. Para Atlet Atletik Indonesia yang telah melampui usia jayanya tetap melakukan latihan olahraga Atletik, yang memang sangat mereka cintai itu. Mereka menamakan kelompoknya sebagai “Atlet Tiga Jaman“, karena banyak diantara mereka yang menjadi Atlet pada jaman penjajahan Belanda, pada jaman penjajahan Jepang, dan pada masa Kemerdekaan. Mereka terus berlatih agar tetap bugar di hari tua. Selain itu, berlomba dalam kelompok umur masing-masing, baik melawan orang lain maupun melawan prestasi sendiri, senantiasa memberikan tantangan (challenge), sehingga hidup mereka terasa lebih bermakna. Inilah sebenarnya inti dari olahraga Lanjut Usia.
Dalam pertemuan mereka pada tanggal 6 – 7 September 1980 di Kota Solo, setelah berlomba di lapangan, mereka mengadakan diskusi di Gedung Loji Gandrung, yaitu rumah kediaman Walikota Solo. Di tempat itu, disepakati untuk mengusulkan kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak H.M. Soeharto, untuk melakukan pemugaran Stadion Sriwedari, yang merupakan Stadion kenang-kenangan mereka, tempat diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada tahun 1948. Usulan tersebut disambut dengan baik oleh Pemerintah dan proses pemugaran pun segera dimulai.
Sementara itu, kegiatan para Atlet Tiga Jaman terus berlangsung, tidak hanya di Dalam Negeri, tetapi juga di Luar Negeri. Mereka mengikuti The 4th World Veteran Games pada tahun 1981 di Christchurch, New Zealand, dan The 1st Asian Veteran Athletics Championships pada tahun 1981 di Singapura dan The 2nd Asian Veteran Athletics Championships pada tahun 1983 di New Delhi, India. Meskipun di tingkat Dunia prestasi mereka masih agak tertinggal, namun di tingkat Asia mereka merasa sejajar dengan Atlet Veteran Asia lainnya. Rekor-rekor Asia pada waktu itu banyak dipegang oleh Atlet Veteran dari Indonesia.
Dengan kegiatan yang padat seperti itu, adanya wadah organisasi yang kokoh mulai terasa diperlukan. Maka pada tanggal 8 – 9 September 1983 di Kota Solo, para Atlet Tiga Jaman ini berkumpul kembali untuk membentuk Persatuan Atlet Veteran Indonesia (PAVI). Setelah PAVI diresmikan di Hotel Dana Solo, mereka berjalan kaki menuju ke Stadion Sriwedari untuk mengikuti Upacara Peresmian Pemugaran Stadion Sriwedari yang 3 (tiga) tahun sebelumnya mereka usulkan. Peresmian Pemugaran itu ditetapkan pada tanggal 9 September 1983, yang merupakan tanggal pembukaan PON I pada tahun 1948, dan selanjutnya dinyatakan sebagai Hari Olahraga Nasional (HAORNAS). Jadi, PAVI dilahirkan bersamaan dengan lahirnya HAORNAS. Hari itu, di hadapan Presiden Soeharto dan Menteri Olahraga, para Atlet Tiga Jaman ber-defile di depan, memimpin para Atlet muda yang mengikuti dibelakangnya. Suatu peristiwa Simbolik yang sangat mengharukan. Pembawa obor pada Peresmian HAORNAS saat itu adalah Atlet Veteran, Titi S. Sudibyo, peserta PON I tahun 1948.
Tiga bulan setelah dibentuk, PAVI menyelenggarakan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik Veteran I pada tanggal 17 – 18 Desember 1983 di Jakarta. Hampir 400 orang peserta mengikuti kejuaraan ini. Selanjutnya, sampai dengan tahun 2005 Kejurnas dilaksanakan setiap tahun, yaitu di Yogyakarta (1984), Surabaya (1985), Semarang (1986), Bandung (1987), Palembang (1988), Solo (1989), Jakarta (1990), Jakarta (1991), Jakarta (1992), Jakarta (1993), Jakarta (1994), Jakarta (1995), Solo (1996), Solo (1998), Solo (2001), Surabaya (2003), Bandung (2005), dan tahun 2007 diselenggarakan di Jawa Tengah.
Gerakan Atletik Veteran yang dimulai pada tahun 1983 di Kota Solo telah menyebar ke daerah lain seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, seluruh Pulau Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Maluku. Antusiasme para Atlet Veteran mengikuti setiap kejuaraan sangatlah besar, meskipun mereka harus datang dengan biaya yang diusahakan sendiri (biaya mandiri).
Pada saat menjadi Penyelenggara dari The 4th Asian Veteran Athletics Championships pada tahun 1986 di Jakarta, Indonesia, PAVI menjadi pelopor tersusunnya Constitution (Anggaran Dasar) dan terbentuknya Asian Veteran Athletes Association (AVAA). Bapak K.G.P.H. Haryo Mataram terpilih sebagai Presiden AVAA Pertama, Masa Bakti 1986 – 1988, dan terpilih kembali untuk Masa Bakti 1992 – 1998. Pada tahun 1994, PAVI kembali menjadi Penyelenggara dari The 8th Asian Veteran Athletics Championships di Jakarta, Indonesia. Pada setiap Kejuaraan Asia, Atlet Veteran Indonesia selalu memperoleh Medali, baik Emas, Perak maupun Perunggu.
Di tingkat Dunia, Atlet Veteran Indonesia telah mengikuti Kejuaraan Dunia sejak tahun 1981 di Christchurch, New Zealand. Atlet Veteran Indonesia, Roesli Siahidiman, mantan Atlet Asian Games I di New Delhi, India, memperoleh Medali Emas untuk nomor Lari 100m Pria Kelompok Usia 65 tahun pada The 7th World Veteran Games tahun 1987 di Melbourne, Australia, sedangkan Yosephine Mahuse, mantan Atlet Nasional, memperoleh Medali Emas untuk nomor Tolak Peluru Wanita Kelompok Usia 35 tahun pada The 10th World Veteran Games tahun 1993 di Miyazaki, Japan.
Perlu dicatat, bahwa di banyak Negara, kegiatan Atletik Veteran / Master ini dijadikan sarana promosi Pariwisata. Tidak mengherankan bahwa pada The 14th World Veteran Games tahun 2001 di Brisbane, Australia, Pemerintah Negara Bagian Queensland menjadi salah satu Sponsor Utama. Kejuaraan yang diikuti lebih dari 5.000 peserta, ditambah dengan keluarga yang menyertai mereka, diperhitungkan akan membelanjakan jutaan dollar selama 10 (sepuluh) hari keberadaan mereka disana.
Hampir setiap Kejuaraan Asia dan Dunia, Atlet Veteran / Master Indonesia ikut serta dalam kejuaraan tersebut mewakili Indonesia.
Organisasi
Persatuan Atletik Master Indonesia (PAMI) adalah Anggota Luar Biasa dari Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) sejak tahun 1983 melalui Surat Keputusan (SK) Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB. PASI) Nomor: 018/PB.PASI/1983.
PAMI adalah Anggota dari World Masters Athletics (WMA) dan Asia Masters Athletics (AMA).
Nama organisasi PAMI semula bernama Persatuan Atlet Veteran Indonesia (PAVI). Musyawarah Nasional Luar Biasa (MUNASLUB) PAVI, yang diselenggarakan pada tanggal 5 Maret 2006 di Jakarta, telah menetapkan penggantian nama organisasi Persatuan Atlet Veteran Indonesia (PAVI) menjadi Persatuan Atlet Atletik Master Indonesia (PAMI). Penggantian nama ini dilakukan seiring dengan bergantinya nama induk organisasi World Association of Veteran Athletes (WAVA) menjadi World Masters Athletics (WMA) pada General Assembly (GA) WAVA pada tahun 2001 di Brisbane, Queensland, Australia. Dengan demikian istilah “Veteran” telah diganti menjadi “Masters“.
| PERIODE | KETUA UMUM | SEKRETARIS UMUM |
|---|---|---|
| 1983 – 1987 | Atwar Noerhadi | Djoko Saptono Slamet |
| 1987 – 1991 | GPH. Haryo Mataram, S.H. | Djoko Saptono Slamet |
| 1991 – 1995 | GPH. Haryo Mataram, S.H. | Djoko Saptono Slamet |
| 1995 – 1999 | GPH. Haryo Mataram, S.H. | Djoko Saptono Slamet |
| 1999 – 2003 | GPH. Haryo Mataram, S.H. | Djoko Saptono Slamet |
| 2003 – 2007 (2005)* | GPH. Haryo Mataram, S.H. | Djoko Saptono Slamet |
| 2006* – 2011 | Brigjen. Pol. (Purn.) Tono Amboro | Merari Nainggolan, S.T. |
| 2011 – 2015 | Brigjen. Pol. (Purn.) Tono Amboro | Merari Nainggolan, S.T. |
| 2015 – 2019 | Brigjen. Pol. (Purn.) Tono Amboro | Merari Nainggolan, S.T. |
| 2006 – 2019* | Brigjen. Pol. (Purn.) Tono Amboro | Merari Nainggolan, S.T. |
| 2019 (Plt.) | Merari Nainggolan, S.T. | Merari Nainggolan, S.T. |
| 2019 – 2023 | Kombes Pol. (Purn.) Sukarmiyati | Bambang Hari Santoso, S.H. |
| 2023 – 2027 | Laksda. TNI (Purn.) Dr. (HC) Jalasena Satriyawirya. | Dr. Drs. Abdul Rahman Sabara, MS.IS., M.H. |
Lihat juga:
Sejarah Asia Masters Athletics
Powered by MASTERS.ID